Laba TMAS Turun 25,86 Persen pada 2025 Meski Pendapatan Stabil
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja keuangan PT Temas Tbk (TMAS) mengalami tekanan sepanjang tahun buku 2025. Perusahaan logistik tersebut mencatat laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp499,23 miliar, turun 25,86 persen secara year on year (yoy) dibandingkan Rp673,36 miliar pada 2024.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 31 Desember 2025 yang dirilis pada Senin (9/3/2026), penurunan laba terjadi di tengah pendapatan yang relatif stagnan serta meningkatnya beban operasional.
Pendapatan Stagnan, Beban Jasa Naik
Sepanjang 2025, TMAS membukukan pendapatan jasa sebesar Rp4,34 triliun, yang secara tahunan relatif tidak berubah dibandingkan Rp4,34 triliun pada 2024. Meski pendapatan stabil, tekanan muncul dari sisi biaya operasional yang mengalami peningkatan.
Beban jasa tercatat naik 3,20 persen yoy menjadi Rp3,55 triliun pada 2025, dibandingkan Rp3,44 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan biaya tersebut berdampak langsung terhadap profitabilitas perusahaan.
Akibatnya, laba bruto TMAS mengalami penurunan 12,18 persen yoy menjadi Rp790,54 miliar, dari Rp900,18 miliar pada 2024.
Laba Usaha dan EBITDA Ikut Tertekan
Tekanan terhadap kinerja keuangan berlanjut hingga level operasional. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat laba usaha sebesar Rp726,56 miliar, turun 20,84 persen yoy dibandingkan Rp917,89 miliar pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba sebelum pajak atau EBITDA tercatat Rp596,77 miliar, yang berarti turun 26,48 persen yoy dari Rp811,75 miliar pada 2024.
Penurunan ini mencerminkan meningkatnya tekanan biaya operasional yang belum sepenuhnya dapat diimbangi oleh pertumbuhan pendapatan.
Aset dan Liabilitas Meningkat
Dari sisi neraca, TMAS justru mencatatkan peningkatan ukuran aset pada akhir 2025. Total aset perusahaan meningkat 20,23 persen yoy menjadi Rp5,29 triliun, dibandingkan Rp4,40 triliun pada 2024.
Namun, kenaikan aset tersebut juga diikuti oleh peningkatan kewajiban. Total liabilitas perseroan melonjak 38,31 persen yoy menjadi Rp2,13 triliun, dari Rp1,54 triliun pada tahun sebelumnya.
Di sisi lain, ekuitas perusahaan juga mengalami pertumbuhan 10,53 persen yoy menjadi Rp3,15 triliun, dibandingkan Rp2,85 triliun pada akhir 2024.