Daftar Saham Migas Karena Harga Minyak Dunia Melonjak
Jakarta, Investrade.app - Kenaikan saham emiten migas terjadi seiring lonjakan tajam harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir.
Pada pukul 09.20 WIB, harga minyak Brent Crude Oil tercatat di US$113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$113,25 per barel.
Reli minyak ini memperpanjang tren kenaikan yang berlangsung sejak akhir Februari dengan pergerakan yang sangat cepat. Sebagai gambaran, harga Brent yang masih berada di US$70,85 per barel pada 25 Februari hanya naik tipis menjadi US$72,48 pada 27 Februari.
Namun setelah itu, kenaikan harga menjadi semakin agresif. Brent melonjak ke US$77,74 pada 2 Maret, kemudian naik lagi ke US$81,4 pada 3–4 Maret. Reli berlanjut ketika harga mencapai US$85,41 pada 5 Maret, lalu melonjak menjadi US$92,69 pada 6 Maret, hingga akhirnya menembus US$113,68 per barel pada pagi ini.
Pergerakan harga WTI juga mengikuti pola yang serupa. Minyak acuan Amerika Serikat tersebut meningkat dari US$65,42 per barel pada 25 Februari menjadi US$113,25 per barel pada perdagangan hari ini.
Lonjakan harga tersebut memperpanjang reli minyak global setelah pekan lalu minyak mentah Amerika Serikat tercatat naik sekitar 35 persen dalam satu minggu, yang disebut sebagai kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan futures sejak 1983.
Daftar Saham Migas yang Potensi Menguat
Emiten energi kapitalisasi besar: PGAS. MEDC. ENRG
Emiten energi menengah dengan potensi pertumbuhan: RAJA, AKRA, RATU
Emiten jasa penunjang dan pelayaran energi: SHIP. SOCI, BULL
Emiten energi skala kecil: CGAS, LEAD, GTSI, KOPI
Ketegangan Geopolitik Jadi Pemicu
Kenaikan drastis harga minyak dunia dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global.
Krisis ini juga menimbulkan risiko terhadap keamanan Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi dunia. Diperkirakan sekitar 20 persen konsumsi minyak global biasanya melewati selat tersebut.
Sejumlah negara produsen minyak di Timur Tengah mulai mengambil langkah pencegahan. Kuwait, yang merupakan produsen minyak terbesar kelima di Organization of the Petroleum Exporting Countries, mengumumkan pengurangan produksi serta output kilang setelah muncul ancaman dari Iran terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Gangguan pasokan juga terjadi di Irak. Berdasarkan laporan Reuters yang mengutip tiga pejabat industri, produksi dari tiga ladang minyak utama di selatan negara tersebut turun sekitar 70 persen menjadi hanya 1,3 juta barel per hari, dari sebelumnya sekitar 4,3 juta barel per hari sebelum konflik meningkat.
Sementara itu, Uni Emirat Arab menyatakan tengah mengelola produksi minyak lepas pantai secara lebih berhati-hati. Perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), menyebut operasi produksi darat masih berjalan normal. Namun, kapasitas penyimpanan mulai menjadi perhatian akibat gangguan distribusi minyak.
Potensi Harga Minyak Tembus US$120
Secara teknikal, sejumlah analis memperkirakan reli harga minyak masih berpotensi berlanjut jika ketegangan geopolitik belum mereda.
Dalam analisis Reuters, harga Brent diproyeksikan dapat bergerak menuju kisaran US$120 hingga US$128 per barel. Sementara itu, harga WTI berpotensi mendekati puncak tahun 2022 di sekitar US$130,50 per barel jika krisis geopolitik saat ini terus berlangsung.
Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat masih menilai situasi dapat mereda dalam waktu dekat. Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz diperkirakan akan kembali normal dalam beberapa minggu mendatang setelah kemampuan Iran untuk mengancam kapal berhasil dilemahkan.
Namun ia juga menegaskan bahwa kondisi pasar energi global saat ini masih jauh dari stabil, sehingga volatilitas harga minyak kemungkinan masih akan terus terjadi dalam waktu dekat.