BUMI, Tekanan Jual Asing Tinggi, Saham Melemah Meski Tren Jangka Menengah Positif
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali berada di zona merah pada perdagangan Jumat (5/12/2025), ditutup turun 1,65% di level Rp238 per saham. Sepanjang sepekan, tekanan jual terlihat menonjol, terutama dari investor asing yang mencatatkan penjualan bersih mencapai Rp61,72 miliar. Aktivitas perdagangan juga terbilang tinggi, dengan volume transaksi lebih dari 2,09 miliar saham dan frekuensi mencapai 47.371 kali.
Mandiri Sekuritas, yang sebelumnya aktif membukukan aksi beli besar terhadap saham BUMI sepanjang November hingga awal Desember dengan total net buy Rp770,6 miliar, justru tercatat melakukan net sell Rp47,7 miliar pada perdagangan terakhir. Sementara itu, beberapa analis teknikal memberikan pandangan yang beragam. Kiwoom Sekuritas, misalnya, merekomendasikan strong sell dengan proyeksi support di 239–237 dan stop-loss di level 233. Adapun resistance dinilai berada di kisaran 245–249.
Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas menilai pergerakan BUMI masih berada dalam tren bullish jangka menengah, meski potensi koreksi ke area support 230–240 tetap terbuka. Menurut analis, peluang pemulihan kembali terbentuk apabila harga mampu bertahan dan rebound dari area tersebut, dengan target resistance berikutnya berada pada rentang 255–260.
Secara fundamental, BUMI saat ini juga tengah menjalankan strategi ekspansi ke luar bisnis batu bara. Perseroan menargetkan akuisisi tambang mineral baru pada 2026 sebagai bagian dari diversifikasi portofolio. Manajemen mengungkapkan bahwa pengumuman aset yang dibidik berpotensi dirilis dalam 6–12 bulan ke depan, selaras dengan upaya mendorong kontribusi pendapatan non-batubara di masa mendatang.