The Fed Turunkan Suku Bunga ke 3,50%–3,75%, Pasar Global Waspada

Kabar Emiten
The Fed Turunkan Suku Bunga ke 3,50%–3,75%, Pasar Global Waspada

Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, kembali menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,50%–3,75%. Pemangkasan yang diumumkan pada Rabu (10/12/2025) waktu setempat ini menjadi yang ketiga kalinya sepanjang tahun. Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa meski data ekonomi belum lengkap akibat penutupan sebagian pemerintahan pada Oktober hingga November, kondisi inflasi dan pasar tenaga kerja tidak menunjukkan perubahan besar sejak pertemuan sebelumnya.

Powell menyampaikan bahwa inflasi memang sudah turun jauh dari puncaknya pada 2022, tetapi masih berada di atas target jangka panjang 2% yang ditetapkan bank sentral. Minimnya rilis data inflasi terbaru membuat The Fed harus bersikap lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan berikutnya. Di tengah ketidakpastian ini, proyeksi terbaru The Fed menunjukkan potensi satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026 dan satu lagi pada 2027, meskipun pandangan internal masih terpecah cukup tajam.

Dalam proyeksi ekonominya, The Fed memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS pada 2026 dapat mencapai 2,3%, naik dari estimasi sebelumnya. Inflasi juga diperkirakan menurun menjadi 2,4% tahun depan. Namun, sebagian pejabat menilai kebijakan moneter saat ini sudah berada pada level netral yang tidak lagi menghambat atau mendorong aktivitas ekonomi. Perbedaan pandangan inilah yang membuat keputusan The Fed semakin sulit, terlebih karena data resmi ketenagakerjaan dan inflasi baru dirilis setelah pertemuan berakhir.

Sejumlah analis menilai The Fed harus berjalan di tengah kondisi yang serba terbatas menahan tekanan inflasi tanpa menekan pertumbuhan ekonomi terlalu jauh. Dengan suku bunga acuan yang kini berada di level terendah sejak Oktober 2022, pasar global pun mencermati sinyal berikutnya dari Powell. Ketidakpastian arah kebijakan menjadi perhatian utama investor menuju awal 2026, terutama di tengah potensi perpecahan internal dan keterbatasan data ekonomi yang tersedia.